Skip to main content

Mengenal Semarang Babywearers: Komunitas Menggendong dari Semarang



Menggendong bayi tak bisa sembarangan. Ada ilmu-ilmu tertentu agar di buah hati merasa nyaman. Sejumlah ibu membentuk Semarang Babywearers (SBW) untuk berbagi informasi tentang bayi. Semua ibu pasti menginginkan yang terbaik bagi buah hatinya. Tak pelak mereka sangat memperhatikan nutrisi, pakaian, bahkan sampai cara menggendong anak sekalipun. Dua ibu asal Semarang, Arinta Dessy dan Rully Rista merasa membutuhkan ilmu tentang menggendong bayi. 

Mereka kemudian mulai menggali informasi di Internet dan menemukan Indonesian Babywearers (IBW) di Jakarta. Dari situlah mereka bergabung dan meminta izin kepada IBW pusat untuk membuka cabang di Semarang karena mereka pikir ibu-ibu domisili asal Semarang akan kesulitan jika ingin belajar di IBW pusat. Lalu pada Juli 2016, komunitas Semarang Babywearers (SBW) ini akhirnya resmi didirikan dengan tujuan edukasi menggendong dan ilmu parenting lainnya. 

Setelah terbentuk, komunitas ini sempat tidak mendapat respon baik dari masyarakat sekitar serta dipandang remeh. Meski begitu, mereka tak gentar dan tetap mempromosikan komunitas tersebut kepada teman dekat dan media sosial. Hingga SBW sempat booming beberapa bulan setelah awal pendiriannya.

Salah seorang anggota SBW Arlita Utami mengatakan, saat ini ada sekitar 170 ibu bergabung dalam SBW. Mereka terdiri dari berbagai profesi. “Mulai dari ibu rumah tangga, PNS, dosen dan lainnya,” jelas Arlita. Lokasi pertemuan SBW bersifat nomaden. Tempat dan waktu pertemuan disepakati melalui grup WhatsApp yang sudah dibentuk. 

Pertemuan SBW biasa dilakukan sebulan sekali dan perekrutan anggota digelar saat kopdar di fasilitas-fasilitas umum kota seperti di Kota Lama. Pertemuan SBW bisa membahas banyak hal. Mulai dari teknik menggendong, apa yang perlu diperhatikan saat menggendong. Menurut Arlita, masih banyak ibu di Semarang yang kurang mengerti ilmu menggendong. 

“Biasanya tiap kopdar pembahasannya berbeda-beda. Ada tematiknya, menggendong dengan jarik, ring sling, atau agar bisa gendong belakang. Semua itu kita beri pelatihan dan di momen kopdar, para ibu bisa mencicipi gendongan ibu-ibu lain yang beda merk dan jenis. Jadi yang belum beli bisa cicip dulu gendongan punya yang lain sehingga tahu mana yang sesuai atau cocok untuk dibeli nantinya,” katanya.

Ketika ditanya tentang apa yang unik dari komunitas ini, Arlinta menjawab bahwa SWB ini menyediakan library gendongan. Para ibu bisa menyewa dan mencoba macam-macam gendongan dari berbagai jenis dan merk, mulai dari yang murah sampai yang mahal. Pada dasarnya tidak ada merk spesifik atau khusus yang direkomendasikan oleh SBW karena semuanya gendongan bergantung pada cara penggendongannya. 

Menurutnya, gendongan ergonomis tidak harus berharga mahal. Misal, jarik bisa dijadikan gendongan ergonomis dengan memperhatikan faktor-faktor tertentu. Yang perlu dipertimbangkan ibu-ibu adalah budged, usia anak, tinggi dan berat anak. “Selain mobilitas menggendong bayi, menggendong juga untuk bonding. Sebenarnya menggendong itu harus yang ergonomis, yang mencerminkan posisi menggendong yang benar mulai dari posisi kepala, jalan nafas bayi, tangan, postur tubuh, sisi kaki, lutut, hingga posisi duduk,” lanjut Arlinta. 

Gendongan ergonomis merupakan gendongan yang mendukung perkembangan fisik seperti tulang punggung dan sendi pinggul anak. Keuntungan bergabung dengan komunitas ini yakni para ibu bisa belajar langsung dari ahli yang sudah mempelajari teknik parenting dan baby wearers. Selain itu, para member juga diuntungkan dengan berbagai info jualan, kesehatan perempuan, parenting, masak-memasak, diskon, hingga harga pampers, dan lainnya.

Bagi Arlita pribadi, Semarang Babywearers ini tidak hanya sebuah komunitas semata melainkan sebuah komunitas yang mendukung pemberdayaan keluarga.


Sumber: Radar Semarang

Comments

Popular posts from this blog

Edukasi Pengendara Agar Tak Terobos Palang KA Bersama Komunitas Railfans Daop Empat

Hobi tak melulu menjadi media untuk melepas penat atau bersenang-senang. Hobi bisa menjadi sarana edukatif. Seperti Komunitas Railfans Daop Empat (KRDE) ini. Kecintaannya terhadap kereta api (KA) sejalan dengan upaya menekan angka kecelakaan di perlintasan KA. Railfans sendiri merupakan komunitas pencinta kereta api.  Terbentuk pada 20 Agustus 2011, di bawah naungan PT Kereta Api Indonesia Daop Empat Semarang. Selain menyukai moda transportasi KA maupun miniaturnya, komunitas ini juga getol mengedukasi masyarakat. Taat berlalu lintas ketika melewati perlintasan KA. “Kecelakaan sering terjadi di perlintasan yang dijaga ataupun tidak, kita getol melakukan sosialisasi ini agar tidak lagi jatuh korban,” kata penasihat KRDE Noviar Yudho Prasetyo. Pria yang akrab disapa Noviar ini menilai, kegiatan sosialisasi ini wajib dilakukan sebagai wujud kecintaan KRDE kepada KA. Tak jarang komunitas ini turun ke jalan dan perlintasan KA. Membentangkan spanduk berisi imbauan kepada pengendara ...