Skip to main content

Konservasi – Edukasi Jadi Fokus Komunitas Pecinta Satwa, Jack Jungle



Jack Jungle merupakan salah satu komunitas pecinta satwa di Pasuruan. Sekilas kegiatan mereka tak ada yang berbeda dengan komunitas pecinta satwa lainnya. Namun di balik itu, ada visi yang bentuknya tak hanya sekadar menyukai satwa namun mereka berfokus pada kegiatan konservasi sekaligus edukasi satwa.

SECARA tak sengaja, Wartabromo bertemu dengan satu komunitas pecinta satwa yang tampak berbeda dengan komunitas lainnya di sebuah acara pameran pecinta satwa. Mereka tampak mencolok dibanding lainnya. Tagline yang menarik, sebuah tulisan Jack Jungle lalu diikuti dengan kata Konservasi dan Edukasi.
Ditengah semakin maraknya kasus perburuan hewan langka, Jack Jungle hadir dengan misi melakukan konservasi dan edukasi terhadap satwa.
“Kurangnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap perlindungan satwa menjadi penyebab utama terjadinya kepunahan satwa di Indonesia. Hal tersebut tercermin dengan maraknya perburuan dan perdagangan satwa,” ungkap Rizki Arief Ketua Jack Jungle kepada Wartabromo, Sabtu (2/3/2019).

Komunitas yang beranggotakan 25 orang ini selain merupakan pecinta satwa, juga melakukan kegiatan pecinta alam. Selayaknya para pecinta alam, merekapun bertekad untuk selalu mencintai dan menjaga keseimbangan alam serta melakukan konservasi terhadap alam. Tak terkecuali pada salah satu makhluk hidup yang tinggal di alam yakni para satwa.
“Apapun,berusaha untuk kita lindungi, baik alam ataupun satwanya,” imbuh pria asli Pasuruan itu.
Selain konservasi, Jack Jungle juga miliki misi yakni untuk mengedukasi masyarakat tentang jenis-jenis hewan yang bisa dipelihara maupun tidak. Termasuk, cara perawatan dan pengembangbiakkannya.


Denny Saputra, pembina Jack Jungle juga mengungkapkan pentingnya edukasi terhadap masyarakat tentang cara pandang memelihara satwa. Ia menekankan jika memelihara satwa sebenarnya tak dilakukan secara serta-merta dan sembarangan.
“Kalau di luar negeri bahkan untuk memelihara beberapa satwa khusus itu harus disertai dengan slip gaji, di Indonesia sebenarnya juga perlu ada regulasi semacam itu,” ungkap pria yang juga merupakan Kasie Pidana Khusus (Pidsus) di Kejari Bangil itu.
Bahkan komunitas yang lahir pada tahun 2009 dan telah berbadan hukum sejak 2017 itu telah menginisiasi Pemkot Pasuruan untuk membangun sebuah mini zoo di Kota Pasuruan. Itu dilakukan agar Kota Pasuruan memiliki destinasi pariwisata yang baru dan sebagai alternatif masyarakat Pasuruan untuk belajar lebih dalam tentang satwa dengan akses yang lebih mudah.

“Sudah kami komunikasikan dengan Pemkot melalui dinas terkait, ya mudah-mudahan saja mini zoo yang nantinya akan dibangun di Taman Sekargadung itu segera terealisasi,” pungkas Rizki.

Sumber: Kumparan

Comments

Popular posts from this blog

Edukasi Pengendara Agar Tak Terobos Palang KA Bersama Komunitas Railfans Daop Empat

Hobi tak melulu menjadi media untuk melepas penat atau bersenang-senang. Hobi bisa menjadi sarana edukatif. Seperti Komunitas Railfans Daop Empat (KRDE) ini. Kecintaannya terhadap kereta api (KA) sejalan dengan upaya menekan angka kecelakaan di perlintasan KA. Railfans sendiri merupakan komunitas pencinta kereta api.  Terbentuk pada 20 Agustus 2011, di bawah naungan PT Kereta Api Indonesia Daop Empat Semarang. Selain menyukai moda transportasi KA maupun miniaturnya, komunitas ini juga getol mengedukasi masyarakat. Taat berlalu lintas ketika melewati perlintasan KA. “Kecelakaan sering terjadi di perlintasan yang dijaga ataupun tidak, kita getol melakukan sosialisasi ini agar tidak lagi jatuh korban,” kata penasihat KRDE Noviar Yudho Prasetyo. Pria yang akrab disapa Noviar ini menilai, kegiatan sosialisasi ini wajib dilakukan sebagai wujud kecintaan KRDE kepada KA. Tak jarang komunitas ini turun ke jalan dan perlintasan KA. Membentangkan spanduk berisi imbauan kepada pengendara ...